Cari Blog Ini

Selasa, 25 Maret 2014

Chapter II: Hijau



Beberapa tahun belakangan,
aku merasa punya keterkaitan aneh dengan warna hijau.
Hijau bukan warna favorit ku.
Aku suka merah. Merah itu terang dan bergairah.
Tapi hijau ini berbeda.
Bukan karena hijau sewarna pohon mangga teduh di depan rumah,
atau sewarna apel malang kiriman Ibuku di akhir bulan.
Bukan.

Warna hijau selalu membawaku pada sebuah kenangan,
tentang seorang anak lelaki yang menungguku di di depan sebuah mall
mengenakan kaus hijau dengan celana jeans yang ditekuk.
Menyambutku dengan senyum khas kanak kanak.

Warna hijau selalu membawaku terbang dengan kenangan tentang nya.
senyum nya, kedip nya, aroma tubuhnya...
Semua tentangnya begitu hijau. Teduh namun hangat.
Cerita nya yang bersemangat tentang dirinya cinta pertamanya
Analisa nya tentang Tuhan dan cinta nya pada keberagaman.
Paksaan yang setiap hari ku ajukan untuk menghabiskan waktu bersama sepulangku bekerja,
yang hanya ia turuti saja. "I can't wait" katanya.
Ia hanya seminggu di kota ini, bagaimana aku bisa melewatkan seharipun tanpa bersamanya.
Aku pun kemudian terjun bebas, kedalam genangan cinta.

Sampai pada akhirnya dengan keteguhan hati aku mengiriminya sebuah pesan.
Rencana nya sebuah pesan cinta, tapi yang kuketik hanya "mind if I movin closer? to you?"
Jantungku berhenti saat menerima balasan dari nya nya
dan segera jatuh setelah membacanya
"just let it flow"

Begitulah,
Warna hijau mungkin berarti kesabaran
Kesabaranku untuk tetap mengalir seperti yang dia pinta
mungkin ini akan bermuara kepada nya kelak
atau mungkin juga tidak..
Tapi biarlah
aku mengalir saja..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar