ini bukanlah apa-apa. hanya ungkapan selinting hati, yang sedang perlahan lahan terbakar lalu habis, dan meninggalkan kebul wangi beraneka rupa. cinta, luka, dan rasa.
Cari Blog Ini
Minggu, 22 Desember 2013
'A' (cerita pendek)
Ayu,
Pasar malam kali ini ramai sekali. Penuh sesak dengan manusia berbagai rupa dan bentuk. Untuk pertama kali nya kuajak dia kesini. Ke pasar malam. Jemari nya menggenggam erat tanganku. Matanya membulat, senyumnya mengembang dan kepala nya sibuk menoleh kekiri dan kekanan. ia menyukai pasar malam.
Umurnya 26 tahun,. 3 tahun lebih tua dari umurku. Kami bertemu pertama kali saat pesta pernikahan kakak. Dia teman kuliah kakak ku. Waktu itu ayu menghampiri aku dan kakak ku yang sedang mengobrol untuk mengucapkan selamat.
Ia tak Nampak seperti perempuan berumur pertengahan dua puluh. Tubuhnya mungil, kulitnya putih, bermata bulat dengan pipi yang merona merah. Dan senyumnya itu, senyum khas gadis kecil. Lucu dan menggemaskan.
Sejak saat iu kami menjadi sering berjumpa. Berjanji untuk makan siang atau sekedar ngopi bersama. Hampir setiap sore aku menjemputnya sepulang ia bekerja. Berjalan jalan ke tempat tempat baru yang belum pernah kami kunjungi. Ayu adalah sosok yang menyenangkan. menghabiskan waktu bersama nya, melihatnya tersenyum , tertawa, dan mendengarkan cerita nya itu seperti menenggak alcohol. Semakin sering, semakin memabukkan. Setiap aku membuka mata di pagi hari, yang kupikirkan hanya satu, bertemu dan menghabiskan waktu bersama nya.
Dan tahu-tahu, aku sudah jatuh hati pada ayu.
Di pasar malam ini, aku harus menyatakan perasaanku padanya. Tujuanku hanya satu, agar bisa selalu bersama nya. Setiap hari, setiap waktu. tersenyum, tertawa bersama nya selalu membangkitkan gairahku, gairah untuk terus hidup dan beraktifitas. Gadis ini tau betul bagaimana membuatku bersemangat untuk melaukan aktifitas kehidupanku. Meski dia tidak melakukan sesuatu yang berarti, aura tubuh yang dipancarkan nya saja mampu membuatku bersemangat. Ia datang seperti mentari pagi yang cahayanya memberikan geliat kehidupan bagi makhluk bumi. Aku tidak ingin kehilangan mentari pagi ku, aku harus memilikinya.
Di sudut wahana bianglala dalam pasar malam itu aku meminta nya menunggu sebentar.
“noona*, tunggu sebentar, ada yang harus kuambil untukmu”.
“kamu mau mengambil apa?” .
“tunggu sebentar, nanti kau akan segera tahu”
aku segera berlari mengambil sebuket bunga mawar putih dan bantal hati bertuliskan would you be mine?. aku kembali ketempat ayu tadi dengan mawar dan bantal hati yang kusembunyikan dibalik punggungku.
Aku belutut di depan nya.
“aku tahu ini sangat mendadak, tapi izinkan aku mengutarakan perasaanku” .
ayu kaget tapi tetap diam.
“selama ini kita bersama, kau satu satunya perempuan yang membuatku merasa sempurna. Aku ingin mengubah kata ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’ .
geu dae saranghamnida*,
would you be my girlfriend?”
ayu menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya. Matanya membulat.
“kalau kmu menerimaku, kmu ambil bantal cinta ini dan dekaplah itu di dadamu. kalau kamu menolaknya, kmu bisa mengambil dan membuang bantal cinta ini”.
Perlahan ayu membuka dekapan tangan di mulutnya dan mengambil bantal hati itu dari tanganku. Lalu mendekap bantal hati itu di dadanya. Aku bangkit berdiri dan segera memeluknya. Sangat erat. Lalu dalam pelukanku, ayu berbisik
“saranghaeyo”
Ardi,
Kesan pertama ku pada lelaki ini adalah ANEH. Si misterius yang tak banyak bicara. Saat mahasiswa lain sibuk bersenda gurau dengan teman temannya seusai jam prkuliahan, dia lebih memilih duduk di sudut koridor kampus dan membaca buku.
Sosoknya tidak mencolok tapi mudah sekali dikenali. Rambuk cepak semi botak, kulit coklat yang mungkin karena terlalu sering terbakar sinar matahari, jeans belel, dan kaus kumal yang seringkali didominasi warna hitam. Bagiku dia lebih mirip penyanyi jalanan di lampu merah daripada seorang mahasiswa tingkat akhir.
Tapi tunggu, ada satu hal yang membuatnya terlihat spesifik. Tatapan matanya. Tatapan mata yang tajam, dingin dan tidak bersahabat. Mungkin dia psikopat, atau pembunuh berdarah dingin, atau..
ah sudah! Mengerikan!aku malas untuk memulai percakapan dengan nya. Hanya tidak ingin mencari gara-gara saja. tapi Semesta selalu punya rencana yang sulit ditebak.
Aku memang tidak pernah mengerti apa rencana semesta, tapi yang jelas aku tidak suka dengan ini. Tiba tiba saja kami dipartnerkan untuk sebuah tugas akhir semester . Ya Tuhan, aku hanya ingin mengkahiri teoriku dengan nilai yang bagus, Tapi tidak harus dengan makhluk seperti ini. Kutuk ku dalam hati.tapi disinilah titik balik terjadi.
Beberapa kali kami menghabiskan malam dengan mengerjakan tugas bersama, setelah aku mengantar ayu kembali ke rumah. Diskusi soal tugas kuliah yang akhirnya berkembang menjadi diskusi serius soal berbagai macam hal. Politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Ardi melabeli dirinya sebagai anarkho-punk. Aku sempat mengerutkan dahi, jadi dia sama dengan berandal – berandal berpenampilan aneh di jalan-jalan? Tapi dengan sabar dia menjelaskan tentang makna dari anarkho-punk tersebut.
Punk secara etimologis berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Public United not Kindom”, kemudian disingkat menjadi P.U.N.K, atau dalam bahasa indonesia berarti sebuah kesatuan / komunitas di luar kerajaan/pemerintahan. Sementara anarkho punk adalah bagian dari gerakan punk yang dilakukan baik oleh kelompok, band, maupun individu-individu yang secara khusus menyebarkan ide-ide anarkisme. Anarki tidak sama dengan chaos, tidak sama dengan kekerasan. Anarkisme merupakan satu dorongan naluriah akibat sistem ekonomi yang tamak dan pemerintahan yang opresif. Anarki berarti egaliter total, bukan omong doang. Anarki berusaha mengembalikan kemerdekaan di tangan individu tanpa unsur paksaan.
Aku tertegun. Lelaki ini memang aneh, tapi sangat cerdas. Penjelasan dan analisisnya terdengar baru di telingaku, tapi masuk akal dan mudah dimengertikami tidak lagi hanya bertemu untuk mengerjakan tugas saja, tapi juga untuk mengobrol sharing pengalaman, berdiskusi tentang banyak hal. Seiring dengan ilmu baru yang kudapat darinya, pandangku tentang Ardi pun perlahan berubah. Dia menjadi jauh lebih menarik buatku. Hangat, bersahaja, dan cerdas. Dan kupikir ketertarikan ku lebih dari sekedar itu.
Aku mulai menyadari bahwa mata nya yang tajam itu menjadi cukup menarik, dan senyumnya, senyum yang mahal sekali untuk ia umbar di depan umum, ternyata sangat manis.
“aku tidak menyangka ternyata kamu sungguh cerdas dan menyenangkan” kataku suatu hari,
“tapi kenapa kamu begitu pendiam dan tertutup di kampus?”
dia hanya tersenyum dan menjawab,
“aku tidak butuh pengakuan apapun dari orang orng tentang siapa diriku, aku hanya berlaku dan bersikap sesuai dengan kebutuhan.”
“jadi, kau tidak punya kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orang-orang disekitarmu?
”ardi pun tergelak. “hahahaa, aku kenal banyak sekali orang, tapi punya banyak teman hanya membuat hidupku ruwet”
keningku berkerut
“jadi kmu lebih suka hidup soliter? Dan tidak punya teman?”
“tenang, aku punya teman kok, kamu salah satunya”
“aku?”
“iya kmu, tapi kurasa kamu lebih dari sekedar teman”
aku yang sedang menyeruput kopi kaget dan terbatuk
“lalu apa?”
ardi tersenyum. Dan sangat manis
“kamu itu great discussion partner”
“hahahaha dasar” kataku sambil tertawa
Dadaku bergemuruh, ini aneh, tapi menyenangkan.
suatu malam, sepulang kami dari kedai kopi, motorku tiba tiba tidak mogok. Tidak biasanya seperti ini pikirku. Ardi yang mengendarai motor di belakang, menghampiriku dan berhenti. “kenapa?”
“ngga tau nih tiba2 motorku mogok” .
“coba di standar dua”
ardi menyetandarkan motornya lalu memeriksa motorku,
“wah, kmu jarang servis motor ya? Lihat nih busi motormu sudah saatnya di ganti”
ardi memnujukkan busi motorku di tangan nya yang sudah sudah menghitam.
“hehehehe iya” kataku sambil menggaruk garuk kepala
“bengkel motor pasti sudah tutup semua, ini kan sudah jam 1 malam”
“besok saja kalau begitu, kost ku dekat dari sini, kmu bisa menginap di kostku dulu kalau mau, besok bisa kau antar kamu ke bengkel.
“wah, gimana ya,”
aku berfikir keras, rumahku masih 5 km dari sini. Tidak mungkin aku mendorong motorku sendirian tengah malam begini.
“baiklah, sepertinya tidak ada pilihan lain”
ardi mendorong motorku dengan motornya sampai ke kost.
Kost nya ternyata dekat sekali dari kedai kopi tempat kami bertemu.
Ardi membantu memparkir motorku di parkiran kostnya lalu berjalan ke kamarnya yang berada di lanatai dua. Aku mengikuti di belakangnya.
Kamar kost ardi biasa saja hanya ada kasur busa, karpet kecil yang kumal, dan lemari pakaian yang tidak seberapa besar, beberapa poster band punk, dan ada gitar di sudut kamarnya.
“malah bengong., ayo segeralah tidur, biar besok kita bisa ke bengkel pagi pagi”
malam ini aku tidur berdua dengan ardi, seharusnya jadi hal yang biasa saja, tapi jantungku berdegub kencang . aku tidak tahu kenapa ini terjadi. Hei, ini Cuma seorang laki laki, tapi ini ardi.
“tidurlah di kasur, ini masih muat untuk kita berdua” kata ardi melihat ku tidur di karpet di samping kasurnya. Aku berguling ke kasur, tepat di sebelah ardi, bersentuhan dengan tubuh ardi membuat degub jantungku makin terpacu, hey ini perasaan apa sih, kataku dalam hati, berusaha mengabaikan. Tapi tetap saja dada berdentum bagai gong.
tiba-tiba, ardi yang tadi nya tidur membelakangiku berbalik dan memeluk ku dari belakang. Jantungku berhenti, dadaku meledak. Ambyar.
Kenapa dia memeluk ku? Ada apa ini?. Kataku dalam hati. Aku berusaha membalikkan tubuhku ke arahnya.
“apa yang kau ….”
belum selesai aku bertanya bibir ardi sudah menyentuh bibirku. Ia mencium ku.
Seorang laki-laki menciumku!.
Kali ini bukan hanya dadaku yang pecah, setiap pembuluh darahku serasa pecah, meletup letup tak beraturan. Sebagagian otak ku menolak, hei aku sedang berciuman dengan lelaki, sesama jenisku. Tapi sebagian lain otak ku menjelaskan berbeda.
Serotonin menjalar di setiap inchi jaringan otak ku membuat perasaan tenang, dan bahagia. Perpaduan yang aneh ini membuat tubuhku hanya terpaku, diam saja, sementara bibirku dan bibir ardi terus berpagut.ia melepaskan bibirnya dari bibirku lalu berbisik
“sorry, I can’t control myself”
degub jantungnya bepadu dengan degub jantungku bagi irama music heatbeat
“I love you, I love you since the first time we’ve met”
aku tidak bisa berbuat apapun lagi sekarang. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku hanya diam.
ardi kembali mencium bibirku lalu turun ke dagu, ke leherku, dan terus turun.
aku diam saja.
segera saja gemuruh di dadaku berubah menjadi badai oksitoksin.
Badai cinta.
——————
Saat ini, aku berjalan dekat sekali kearah kegilaan. Kegilaan cinta.
Aku bingung, aku membiarkan hatiku bercabang dua. Cabang yang tertaut pada dua sosok yang berbeda. Berbeda jiwa. Berbeda jenis kelamin. Aku mencintai ayu. Perempuan dengan senyum hangat sehangat matahari pagi. Yang membuat tubuhku segar, enerjik, dan lincah selincah kuda liar sabana. Tapi tiba tiba aku terjebak pada kenyataan bahwa aku mencintai seorang lelaki bernama ardi. Lelaki bermata terang seterang bintang malam. Bintang yang selalu kutunggu kehadiran nya setiap malam. Yang dengan kilau nya mampu menenangkan, menetralkan riak riak yang melonjak di dalam dada. Melihatnya saja saja mampu membuatku tenang setenang burung hantu yang ber-uhu manja, mennyanyikan lagu bahagia kepada bintang.
perasaan nya sama, getar getarnya pun sama. Tak ada yang tahu betapa aku membutuhkan mereka.
Mentari pagi ku dan bintang malamku.
Energi ku dan ketenanganku.
tapi ini bukan Cuma soal aku, hatiku, dan perasaanku saja. Ini soal hati dan perasaan mereka juga. Aku sedang menduakan hatiku dan ini akan menyakiti mereka berdua. aku mencintai mereka tapi aku tidak ingin menyakiti mereka. Aku tidak ingin menyakiti ayu dan ardi dengan menduakan mereka.aku sadar aku harus memilih. Aku harus memilih salah satu dari mereka. Penting bagiku untuk berhenti pada satu titik. Berlandaskan pada sebuah komitmen yang kuat.
tapi siapa? Siapa yang harus kupilih?
Bukan kah Tuhan menciptakan Matahari di pagi hari dan bintang di malam hari untuk manusia? Ketka dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus memilih, aku harus memilih yang mana?
catatan kaki:
*noona: panggilang yang diberikan untuk laki laki kepada peremuan yang lebih tua (kakak) dalam bahasa korea
*geu dael saranghamnida : aku mencintai mu (formal version)
*saranghaeyo : aku mencintaimu (casual version)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar